Sun. Oct 21st, 2018

Pemerintah memperluas penggunaan B20 untuk semua sektor industri, termasuk alat berat.

Acara jumpa pers peluncuran mandatori Perluasan Penggunaan B20 yang dihadiri Kemenko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut Pertamina Nicke Widyawati di Jakarta, Jumat (31/8/2018)

Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk memperluas penerapan kewajiban pencampuran biodiesel 20 persen untuk semua industri per 1 September 2018, baik sektor bersubsidi (Public Service Obligation/PSO) maupun non-PSO. Sebelumnya, kebijakan penggunaan B20 hanya untuk sektor yang bersubsidi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, dalam acara peluncuran secara resmi perluasan mandatori B20, di Jakarta,  Jumat (31/9/2018), menjelaskan, kebijakan ini diambil untuk mengurangi defisit dan impor bahan bakar minyak (BBM) serta menghemat devisa.

“Kita meluncurkan B20, baik untuk PSO maupun non PSO. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya untuk mendorong ekspor dan memperlambat impor,” ungkapnya.

Kewajiban penggunaan B20 di semua industri dimaksudkan untuk menyehatkan neraca pembayaran, sehingga tidak terlalu lama bisa menghilangkan defisit neraca perdagangan eskpor-impor barang dan selanjutnya mengurangi defisit transaksi berjalan.

“Salah satu kebijakan yang lebih cepat mendatangkan devisa bagi negara, tidak menunggu investasi, mulai dilakukan langsung kelihatan hasilnya. Salah satunya adalah penggunaan B20,” kata Darmin. “Karena begitu program ini dimulai, maka dampaknya adalah terjadi penambahan devisa, karena diesel atau solarnya dicampur dengan CPO (crude palm oil), otomatis berkurang kebutuhan solar.”

Selain itu, dengan adanya kebijakan B20 ini, selain menghemat solar dan devisa, sekaligus mengurangi penumpukan stok. Dengan harapan, pada awal tahun nanti, harga CPO sudah bergerak naik, sehingga tambah lagi satu benefitnya, devisa hasil ekspor kelapa sawit meningkat.

B20 merupakan bahan bakar hasil pencampuran minyak solar dengan biodiesel berbahan dasar sawit sebanyak 20 persen. Selama ini biodiesel dikenal masyarakat sebagai bahan bakar bersubsidi dengan sebutan Biosolar yang dipasarkan oleh Pertamina. Dengan peluncuran perluasan mandatori B20 ke semua sektor, maka sejak 1 September 2018 tidak akan ada lagi produk B0 di pasaran dan keseluruhannya berganti dengan B20.

Kewajiban pencampuran bahan bakar solar dengan B20 sudah dimulai tahun 2016, namun penerapannya belum optimal. Melalui optimalisasi dan perluasan pemanfaatan B20, diperkirakan akan terdapat penghematan sekitar 2-2,3 miliar dolar hingga akhir 2018.

Mekanisme pencampuran B20 akan melibatkan Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BU BBM) yang menyediakan solar, dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU BBN) yang memasok FAME (Fatty Acid Methyl Esters) yang bersumber dari CPO. Sementara yang menjadi sasaran utama perluasan B20 ini adalah sektor yang masih belum optimal memanfaatkan B20, terutama di sektor transportasi non PSO, industri, pertambangan, dan kelistrikan.

 

Bagaimana Menurut Anda? komentar anda :

Construction / Mining Equipments - Trucks - Agriculture Machineries - Machine Tools - Equipment Rental

Construction / Mining Equipments – Trucks – Agriculture Machineries – Machine Tools – Equipment Rental