update news
Now Reading
CV Baru Bangkit, Jagoan Rental di Banjarnegara
0

CV Baru Bangkit, Jagoan Rental di Banjarnegara

Kuasai teknik perawatan menjadi kunci keberlangsungan usaha CV Baru Bangkit di bidang rental alat berat konstruksi.

 

Budhi Gunawan 1Rencana besar pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur di berbagai daerah menjadi khabar baik bagi para pelaku bisnis alat berat konstruksi di Indonesia. Bagaimana tidak, proyek-proyek yang akan dilaksanakan itu berskala besar dan dengan nilai investasi yang besar pula. Pengerjaannya akan melibatkan banyak kontraktor dan memerlukan banyak peralatan konstruksi.

Salah satu contohnya adalah jalan tol lintas Sumatera sepanjang 430 km yang merentang mulai dari Bakauheni – Lampung – Palembang hingga Tanjung Api-Api yang pengerjaannya dimulai April tahun ini dengan nilai investasi sebesar Rp 53 triliun. Proyek besar ini sangat menggiurkan bagi bisnis alat berat dan industri-industri terkait.  Dan Pemerintah sudah berkomitmen untuk terus mempercepat proyek-proyek serupa di berbagai daerah Indonesia.

Kehadiran proyek-proyek seperti itu menyuntikkan gairah baru bagi para pelaku bisnis alat berat konstruksi dan/atau perusahaan-perusahaan kontraktor di bidang infrastruktur. Sebab mereka sudah lama merindukan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. “Kami sangat merindukan kehadiran proyek-proyek besar yang jangka panjang agar unit-unit yang kami miliki dapat dioptimalkan penggunaannya dan kami bisa terus melakukan investasi peralatan baru,” ungkap Budhi Gunawan, Direktur CV Baru Bangkit, kepada Majalah EQUIPMENT beberapa waktu lalu.

CV Baru Bangkit merupakan badan usaha yang bergerak di bidang general contractor supplier dengan fokus pada penyewaan alat berat konstruksi. Dengan bekal pengalaman selama bertahun-tahun dalam urusan manajemen alat, termasuk masalah perawatan, pria yang akrab disapa Budhi ini merintis usaha sendiri dengan nama CV Baru Bangkit, yang berdiri pada tahun 1995 di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Budhi menyimpan banyak kisah menarik dalam menekuni bisnisnya ini. Awalnya  CV Baru Bangkit bergerak di bidang pengadaan lahan untuk perumahan. “Pekerjaan utama  kami adalah pematangan lahan untuk perumahan yang saat itu sedang ramai-ramainya di Jawa Barat, terutama di Bandung,” ia memulai ceritanya.

Meski memiliki basis pengalaman yang kuat di bidang peralatan, Budhi tidak mau langsung menggeluti usaha rental alat. Padahal sejak tahun 1983 dia mengurus alat berat mulai dari operasional hingga perawatan. Dia paham betul jeroan dari setiap tipe alat berat.

Setelah sukses dengan proyek pengadaan dan pematangan lahan untuk properti di Bandung, CV Baru Bangkit mendapat proyek serupa di daerah Semarang, Jawa Tengah. Budi juga dipercaya untuk mengerjakan proyek normalisasi sungai di daerah di Purwerejo, Blora, Demak dan sebagainya.

Pengerjaan-proyek tersebut menggunakan mesin rental karena selama setahun pertama CV Baru Bangkit belum memiliki alat sendiri. Namun, Budi tidak harus membutuhkan waktu lama untuk memiliki mesin sendiri. Sebagai buah dari proyek-proyek printis tersebut, pada tahun 1996, Budi sudah memiliki tabungan untuk membeli unit bekas.

“Pada pertengahan tahun 90-an, CV Baru Bangkit mendapat banyak pekerjaan. Ada banyak proyek, tetapi tidak semua orang mengerti bagaimana mengerjakannya. Kebetulan saya sudah punya pengalaman sebelumnya, dan saya tahu bagaimana mengerjakannya, sehingga perusahaan mendapat banyak order. Itu sebabnya kami bisa cepat membeli peralatan sendiri,” tuturnya mengenang masa awal merintis usaha sendiri.

Pengusaha rental yang pernah mengikuti pelatihan di Hino Motor Jepang ini mencontohkan sebuah proyek yang pada perjanjiannya diselesaikan dalam tempo 6 bulan, CV Baru Bangkit bisa menuntaskannya dalam 18 hari saja. “Saking bagus mutu pekerjaannya, kami dipercayakan lagi untuk mengerjakan beberapa proyek pada kawasan real estate di Bandung,” ujarnya bersemangat.

“Dengan menyelesaikan proyek-proyek itu lebih cepat dari jadwal yang ditetapkan, kami bisa menekan biaya, sehingga kami masih punya simpanan yang cukup untuk investasi peralatan.”

Namun, ia menekankan, salah satu kunci suksesnya pada tahun-tahun awal ini adalah kemampuannya untuk mengetahui dan menguasai pekerjaan yang ada serta mengerti cara kerja peralatan.

Ia masih ingat alat bekas pertama yang berhasil dibeli, yaitu excavator Komatsu strip 3, dan tidak lama kemudian ia membeli mesin baru. “Awal tahun kami membeli satu unit, dan memasuki pertengahan tahun kami tambah dua unit lagi,” kenangnya mengenai mesin-mesin baru yang dibelinya pada tahun 1996.

Budi membeli excavator-excavator baru itu ketika kondisi perekonomian Indonesia sedang tumbuh pesat, dan pemerintah sedang giat melakukan pembangunan infrastruktur. Tetapi, tidak lama setelah itu, sekitar paruh kedua tahun 1997, perekonomian nasional mulai mengalami gejolak yang dipicu oleh krisis moneter. Saat itu, CV Baru Bangkit sudah memiliki sekitar 10 unit mesin baru dari berbagai merek dan tipe (buldozer, Vibro dan excavator). Selain itu, masih ada tiga unit excavator bekas yang tetap produktif karena perawatannya bagus.

Beruntung, CV Baru Bangkit kurang merasakan dampak krisis moneter itu karena ada saja proyek-proyek yang dikerjakan. “Justru pada saat krisis itu saya mendapat porsi pekerjaan-pekerjaan yang orang lain tidak bisa kerjakan. Jadi, selama krisis itu saya kerja terus,” ujar Budi.

Salah satu proyek yang dikerjakan adalah pekerjaan pematangan lahan di salah satu lahan lapangan golf di Semarang, Jawa Tengah persis ketika krisis moneter sedang meradang.

 

Beralih ke rental

Dawson Zhu (Director Sany Heavy Machinery), Yudhi (pelanggan Sany), Benny Kurniajaya (CEO Jimac Group) dan Budhi Gunawan

Dawson Zhu (Director Sany Heavy Machinery), Yudhi (pelanggan Sany), Benny Kurniajaya (CEO Jimac Group) dan Budhi Gunawan

Seiring dengan bertambahnya jumlah armada yang dimiliki saat ini, fokus bisnis CV Baru Bangkit sudah bergeser dari kontraktor ke usaha penyewaan alat berat konstruksi. “Inginnya sih tetap di kontraktor, namun sejalan dengan perubahan kondisi pasar, terutama di sektor rental, kami lebih memilih menjadi pemain rental sekarang ini,” ia menjelaskan alasannya.

Selain soal peluang, alasan lain mengapa Budhi fokus di rental adalah karena basisnya yang kuat di teknik peralatan. Ia pernah mengikuti pelatihan mekanik yang diselenggarakan oleh Hitachi. Selama bertahun-tahun di perusahaan terdahulu ia mengurus teknis peralatan. Bahkan sampai sekarang ia masih betah “bermain” bersama unit-unit yang dimilikinya. Ia turun sendiri ke lapangan untuk merawat mesin-mesinnya. Tidak heran dia mengerti benar-benar karakter setiap unit yang dia miliki.

“Kunci ketahanan alat terletak pada perawatan. Kalau perawatannya bagus, lifetime-nya bisa berpuluh-puluh tahun. Sebaliknya, jika perawatannya jelek, mesin sebagus apapun akan lekas rusak,” ungkapnya meyakinkan.

Ia menambahkan, semua alat baik kalau perawatannya bagus, suku cadangnya tersedia dan operator yang menjalankan mesin tersebut juga benar-benar menguasai cara terbaik memperlakukan alat. Sebab, jika operator jorok, baru latih,  dirawat sebagus apapun, hasilnya pasti jelek. Ia mencontohkan beberapa unit bulldozer yang sejak dibeli sekitar 20 tahun lalu masih beroperasi dengan baik sampai sekarang  karena perawatannya bagus.

Budhi menegaskan bahwa apapun merk atau brandnya, kunci lifetime alat terletak pada perawatan. Karena keyakinan itu CV Baru Bangkit terus menambah koleksi armadanya dengan membeli mesin-mesin asal Tiongkok. “Setiap merk tentu punya kelebihan dan kekurangan secara teknis, tetapi kalau perawatannya bagus, maka dapat dijamin peralatan itu akan berfungsi dengan baik,” tukasnya.

Budhi membuktikan, ketika pasar Indonesia masih meragukan mesin-mesin asal Tiongkok, pada tahun 2012 ia berani membeli dua unit excavator SANY 215 (20 ton). Jumlahnya terus meningkat setiap tahun dan saat ini sudah mencapai 20 unit yang terdiri dari excavator 20 ton (6), 5,5 ton (1) dan 7,5 ton (3).

Berbicara mengenai produk-produk Sany, Budi mengatakan pabrikan ini menggunakan komponen-komponen yang sama dengan produk-produk Jepang. Dia mencontohkan engine dan undercarriage-nya. Dapur pacu Sany yang kelas 20 ton ke bawah dihuni oleh engine Mitsubishi orisinil, sementara undercarriage dan sprochet-nya menggunakan produk merk Kayaba – semuanya buatan Jepang. “Jadi, isinya sama dengan (produk-produk) Kobelco,” ujarnya membandingkan.

Ketika ditanya mengenai berapa jumlah unit alat yang dimiliki CV Baru Bangkit saat ini, Budhi mengakui tidak ingat berapa persis jumlahnya, tetapi dia perkirakan excavator sekitar 60-an unit, bulldozer (20) dan vibro (8). Dengan jumlah armada yang terus bertambah dan semuanya terawat dengan baik, CV Baru Bangkit siap untuk terus memberikan kontribusi signifikan dalam pengerjaan proyek-proyek infrastruktur di Indonesia umumnya, dan terutama di wilayah Jawa Tengah yang menjadi basis operasi perusahaan yang berkedudukan di Banjarnegara ini.

Bagaimana Menurut Anda? komentar anda :

Leave a Response

15 + 14 =